Melahirkan Kembali PMII, Refleksi Setengah Abad

Posted: Agustus 24, 2010 in Uncategorized

Dalam sebuah forum diskusi kader PMII pada penghujung tahun lalu di Yogyakarta penulis memberikan beberapa catatan berupa kondisi kekinian PMII dan prediksi perubahan di masa mendatang. Tentu saja, argumentasi-argumentasi yang diberikan penulis tidak bermaksud untuk memaksa audiens ketika itu untuk sekejap mata melakukan reorientasi gerakan melainkan hanya sekedar menunjukkan there is something wrong sehingga saat ini PMII tidak ubahnya hanya merupakan ruang imajiner bagi pengurus dan anggotanya yang terancam bubar atau tidak berfungsi secara total 10-20 tahun mendatang. Satu keyakinan dari penulis, sebagai alasan terbesar keberadaan penulis di struktur, adalah bahwa kita–dengan daya yang diberikan oleh-Nya– masih memiliki kemampuan untuk merubahnya.

Membaca Masa Kini

Dalam sebuah diskusi panel yang diselenggarakan oleh KAMMI Jakarta di kampus UNJ yangmenghadirkan Ketua KAMMI Jakarta, Ketua Badko HMI Jabotabeka-Banten, dan penulis (Ketua Umum PKC PMII Jakarta) pada akhir Maret 2010, penulis menyampaikan ucapan selamat milad kepada KAMMI yang telah menginjak usia 12tahun. Penulis menyampaikan ketika itu bahwa usia 12 tahun bagi ukuran seorang manusia modern adalah saat bagi kebanyakan orang untuk giat mencari pengetahuan dalam usahanya mencari jati diri. Adapun bagi PMII yang telah menginjak usia setengah abad, jika diumpamakan adalah orang yang biasanya sedang berusaha meningkatkan ibadah formalnya agar terhindar dari siksa api neraka jelang tutup usia.

Tentu saja, perumpamaan usia serta kecenderungan antara institusi dan orang memangkurang tepat. Tapi, sebagaimana halnya mahluk hidup, institusi juga bisa lahir dan mati. Dalam konteks itu, penulis ingin memberikan penekanan bahwa kondisi PMII saat ini nyaris seperti orang tua sekarat yang sudah tidak lagi produktif meskipun masih dapat memberi manfaat bagi orang lain.

Kalau mau jujur, kondisi seperti itu tercermin di pengurus tingkat nasional saat ini. Mereka memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya mengingat mereka adalah produk dari sistem kaderisasi dan sistem institusi. Pun sebaliknya, mereka juga tidak bisa dibenarkan karena mereka adalah pemilik otoritas tertinggi dari hirarki PMII yang mengabaikan mandat institusi.

Beruntung PMII belum bisa menghadirkan dirinya sebagai organisasi kader sehingga kondisi di tingkat nasional tidak terlalu berdampak signifikan. Sebagian kecil pengurus-pengurus PMII di daerah masih sangat produktif dan bahkan berhasil melakukan terobosan-terobosan meskipun tidak ada lagi kepemimpinan di tingkat nasional. Sebagian yang lain masih berkutat dengan tindakan minimalis yakni hanya berusaha sebatas mempertahankan eksistensi PMII di daerahnya tanpa rencana strategis yang jelas. Ada juga perekayasaan eksistensi hanya ketika perhelatan Konfercab, Konkorcab, atau Kongres akan digelar. Dua yang terakhir adalah cara-cara survival ala PMII yang masih terus mentradisi.

Kondisi seperti itu tentu saja tidak berdiri sendiri, melainkan sebuah keberlanjutan atau akibat dari rentang proses periode sebelumnya.

Mengapa dampak dari apa yang terjadi di level nasional tidak terlalu signifikan? Adanya sistem yang sudah lama corrupt (rusak) menyebabkan terjadinya patologi institusi, mulai dari atas hingga bawah. Sedikit sekali pengurus yang memiliki konsistensi terhadap tujuan, nilai, produk konstitusi, dan panduan kaderisasi PMII. Sebagian besar hanya menjadikan PMII sebagai stepping stone atau eskalator dalam berkarir post PMII dan bahkan keberadaan sebagai pengurus dianggap sebagai profesi. Karena itulah, semuanya masih bisa berjalan secara otonom sesuai dengan mindset pengurusnya masing-masing. Relasi antar jenjang pengurus tidak lebih dari selembar SK pengurus.

Di luar kondisi internal, PMII sudah dihadapkan dengan beberapa tantangan baru.

Pertama, setting situasi politik saat ini berbeda dengan masa lalu. Transisi demokrasi saat ini masih terjadi tetapi semakin mendekati ke arah konsolidasi demokrasi. Fenomena ini bisa dilihat dengan semakin adapatifnya elemen-elemen demokrasi dengan tata politik demokrasi. Meskipun kita masih meragukan, partai politik saat ini tengah dipaksa untuk berubah secara bertahap. Upaya pemberantasan korupsi, meskipun masih menyimpan banyak masalah, terus berjalan secara pasti dan membuat ilusi ketakutan di kalangan birokrasi dan jabatan politik non karir yang umumnya dihuni elite dari partai politik. Kecurigaan-kecurigaan publik yang distimulasi oleh transparansi mendesakkan berjalannya secara efektif dan efisien (mantra capitalism) institusi-institusi di bawah negara.

Kedua, setting gerakan sosial. Gerakan sosial ala mahasiswa sudah digantikan oleh gerakan interest group dari organisasi berbasis profesi atau kepentingan. Berbicara isu perburuhan maka kelompok-kelompok berbasis buruhlah yang paling mengerti setiap isu yang terkait dengan dunia perburuhan. Pun demikian dengan isu-isu kepentingan lainnya, misalkan untuk berbicara isu korupsi maka ICW atau TII yang dianggap lebih memiliki kapasitas karena ditunjang oleh resources yang expert dan infrastruktur yang cukup memadai untuk mengumpulkan dan mengolah data. Hal ini juga terjadi di isu lingkungan di mana Walhi, WWF, atau Green Peace dianggap lebih capable. Isu keagamaan juga lebih banyak didorong oleh kelompok sosial berbentuk LSM atau Ormas. Hal ini terjadi di hampir seluruh isu-isu yang terkait dengan dinamika sosial, politik, ekonomi, dan budaya di mana selalu muncul kelompok yang memiliki fokus isu.

Selain itu, tindakan kreatif personal yang terdiri dari satu orang atau beberapa orangjuga kerap terjadi dan memiliki dampak yang tidak kalah kecil dengan aksi massa yang terdiri dari ratusan bahkan ribuan orang. Contoh dari hal ini adalah gerakan facebooker yang membuat sebuah group dukungan bagi Bibit dan Chandra dalam isu cicak versus buaya, koin untuk Prita dalam kasus hukum melawan RS Omni International, bahkan yang paling terkini adalah tindakan mantan aktor Pong Harjatmo mencorat-coret kubah gedung DPR. Beberapa contoh di atas adalah beberapa tindakan gerakan sosial kreatif yang dapat booming di media dan memberikan efek nyata. Dalam konteks target minimal gerakan pada pembentukan opini publik dan perubahan kebijakan maka aksi sosial tersebut terkadang lebih efektif.

Lantas di mana peran institusi model PMII yang bermain dalam ruang bernama gerakan mahasiswa? Pertanyaan ini akan dielaborasi dalam tulisan di bawah ini.

Membaca Masa Depan

Indonesia masa depan adalah Indonesia yang masih tidak bisa melepaskan dirinya dari tekanan politik-ekonomi internasional. Revisi atas teori dan praktik demokrasi liberal akan terus terjadi dan membawa universalisasi baru terhadap warga dunia. Terlepas apakah kita punya kecenderungan untuk menghindari, menolak, atau bahkan melawannya yang jelas apa yang kita lakukan tidak akan memiliki kemampuan benar-benar merubah keadaan secara total.

Mengapa penulis begitu yakin, jika tidak ada perubahan yang betul-betul nyata, bahwa organisasi model PMII akan segera lumpuh atau berakhir secara total 10-20 tahun mendatang?

Di kalangan para analis, perubahan atau fenomena politik apapun di Indonesia setidaknya dapat dibaca dari unsur 5M: muslim, militer, money, media, dan mahasiswa. Kelima unsur ini biasanya saling terkait ketika terjadi perubahan sebagaimana bisa kita lihat di tahun 66-67 dan98-99. Unsur kelima kerap menjadi faktor ketika kompromi antar elite cenderung mengalami kegagalan. Dengan kata lain, unsur ini tidak terbentuk dengan sendirinya, melainkan hanya menjadi konsumen dari apa yang terjadi di level elite. Terjadi upaya penunggangan (straddling) melalui mitos student movement as agent of change. Elite yang berhubungan baik dengan gerakan mahasiswa memiliki nilai tawar lebih ketika terjadi negosiasi ditingkat atas. Pola relasi seperti ini bisa jadi baik atau buruk bergantung pada perubahan yang ditawarkan.

Di negara yang demokrasinya telah mapan, teori gerakan mahasiswa sebagai agen perubahan telah mengalami anomali. Mahasiswa hanya akan bereaksi terhadap isu-isu pendidikan semata. Sisanya, mereka bergabung dengan kelompok-kelompok sosial berbasis isu. Hal seperti itulah yang akan mendera Indonesia jika setting politik dan sosial sebagaimana yang telah diuraikan oleh penulis di atas akan terus terjadi dan semakin menguat.

Secara linear, gerakan mahasiswa terus menjadi rapuh. Isu-isu tidak populis yang biasanya menjadi santapan segar gerakan mahasiswa pun tidak pernah membuat gerakan mahasiswa menjadi sangat massif. Gerakan mahasiswa telah tersubordinasi oleh fragmentasielite dan hanya muncul sesekali ketika ada dorongan dari elite. Inipun akan terus berlanjut.

Dari bacaan itu bisa sedikitdisimpulkan bahwa ada kenyataan pahit di mana gerakan mahasiswa untuk selanjutnya tidak akan pernah memiliki kemampuan mereproduksi isu dan berani untuk fokus terhadap isu tertentu sesuai habitusnya.

Faktor bahwa sebagian besar mahasiswa menjadi pragmatis atau hedonis hanyalah kambing hitam dari rendahnya militansi yang selalu punya batas seiring pemahaman dan keyakinan ideologi yang menjadi semakin kabur. Ideologi hanya terlihat secara samar-samar di partai politik dalam pertikaian isu-isu tertentu dan –hampir bisa dipastikan– sama sekali tidak terlihat dalam laku gerakan mahasiswa di masa mendatang. Jika ingin tetap punya warna ideologi mereka harus secara vulgar berafiliasi secara politik dengan partai politik.

Regenerasi di elite semakin lama meminggirkan mereka yang dahulu punya latarbelakang sebagai aktivis mahasiswa. Regenerasi kini secara perlahan tapi pasti (kembali) beralih ke mereka yang berlatarbelakang aktivis organisasi profesi (kepentingan), aktivis partai, aktivis LSM dan Ormas, selebritis, pengusaha, dan pensiunan militer. Demokrasi model saat ini hanya membutuhkan dan memberikan peluang kepada mereka yang benar-benar memiliki keahlian tertentu dan dukungan logistik kuat. Afiliasi ideologi sebagai faktor lain nyaris secara perlahan sirna.

Pendekatan berbasis klaim emosional institusi model PMII pun pudar dan digantikan oleh kecenderungan baru kapasitas personal: keahlian pada bidang tertentu, kekuatan jaringan (partai) politik, dan dukungan logistik (ekonomi). Jika ketiga hal tadi tidak dimiliki atau tidak dipersiapkan maka eksistensi institusi model PMII sudah tidak lagi dibutuhkan karena posisinya telah digantikan oleh kelompok kepentingan berbasis isu. Pun demikian dengan regenerasi elite.

Kemana Harus Bergerak?

Judul tulisan melahirkan kembali PMII tentu saja memiliki tendensi subyektif.Melahirkan kembali berarti mengibaratkan PMII sebelumnya pernah lahir, hidup, dan mati. Melahirkan kembali dalam perspektif penulis adalah mereformasi format institusi, mereformulasi tata kaderisasi, dan meredefinisi nilai dan reinterpretasinya di wilayah praksis. Melahirkan kembali merupakan upaya reinstitusionalisasi PMII sehingga memiliki kemampuan adaptif terhadap tantangan dan ancaman yang dihadapi. Syukur jika bisa melakukan differensiasi dalam bergerak dan membuat terjadinya perubahan warna.

Mau tidak mau atau suka tidak suka, PMII harus tidak lagi semata-mata mendefinisikan gerakan hanya cukup di jalanan. Gerakan bisa termanifestasi di dalam ruang apapun dengan format yang lebih strategis.

Lalu di mana domain gerakan PMII?

Domain gerakan PMII di masa mendatang sangat tergantung keseriusan memaknai tujuan organisasinya: Membentuk pribadi muslim Indonesia yang bertakwa, berakhlakul karimah, berbudi pekertiluhur, cakap dan bertanggungjawab mengamalkan ilmunya, dan komitmen terhadap cita-cita kemerdekaan Indonesia (AD pasal 4).

Dalam hal ini, domain gerakan PMII diarahkan pada ruang tunggal: reproduksi kader yang harus disiapkan di semua lini yang memiliki konsistensi terhadap nilai-nilai yang dijadikan pondasi pembentukan jati diri kader. Inilah yang membuat PMII harus serius berbenah bahwa mereka harus memiliki kader-kader yang siap bertarung dengan seperangkat nilai dan kemampuan akademiknya.

Untuk mempermudah memahami field gerakan, ada tiga segmentasi yang dianggap sebagai locus di mana dinamika perubahan terjadi dalam perspektif sosiologi inovasi: universitas, industri, dan pemerintah.

Pertama, universitas. Universitas merupakan tempat justifikasi ilmiah meskipun untuk saat ini klaim tersebut sudah tidak lagi terlalu benar karena keberadaan lembaga-lembaga riset di luar universitas. Namun, universitas tetap menjadi sarana transaksi, sosialiasasi, dan transformasi pengetahuan sehingga dianggap kerap memiliki standar moralitas tersendiri. Legitimasi perubahan tetap membutuhkan klaim atau justifikasi universitas. Pada titik ini, kader-kader PMII dapat mempersiapkan dirinya sebagai akademisi karir di lingkungan kampus sehingga infiltrasi dan transformasi nilai dapat terjadi.

Kedua, industri. Perubahan teknologi selalu menghadirkan cara baru yang berdampak pada terjadinya perubahan pola sosial. Progress –atau secara agak sinis juga bisa dikatakan regress– berupa inovasi-inovasi baru dalam usaha perdagangan berbasis industri dan jasa tidak akan pernah terhenti. Kenapa perlu dikuasai? Secara teoritik, industri merupakan sarana akumulasi kapital, distribusi pendapatan warga negara dan negara, atau bahkan sumber kesejahteraan sekaligus ketimpangan dalam konstruksi negara-bangsa modern. Secara empirik, bargaining kalangan industri dalam menentukan kebijakan ekonomi terkadang jauh lebih kuat dibandingkan partai politik sekali pun. Kader PMII harus memiliki keberanian memasuki wilayah ini.

Ketiga, pemerintah. Pemerintah dalam hal ini adalah pembuat kebijakan (policy maker) sekaligus pelaksana kebijakan (executor). Ruang inilah yang sedikit banyak menentukan arah pembangunan negara dan bentuk ideal masyarakat. Ruang ini bisa dimasuki melalui jabatan politik via parpol dan jabatan karir (PNS).

Jika saja semuanya tertata dengan baik (sinergi) dengan kempemimpinan yang jelas di level institusi dan alumni tentu saja strategi makro menyangkut visi bersama sebagaimana yang tertuang dalam cita-cita kemerdekaan akan dengan mudah tercapai.

Institusi PMII menjadi produsen, institusi alumni menjadi distributor, dan universitas, industri, serta pemerintah (negara) menjadi medan pertarungan (battle field) merebut dominasi. Pastinya, gerakan tidak hanya bisa selesai dengan cukup berteriak di jalan dan dalam kerangka taktis semata. Dalam konteks itulah PMII akan tetap bertahan dan akan terus dipertahankan.

4 Ramadhan 1431 H/13 Agustus2010 M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s