Fighter Kader PMII

Posted: Agustus 24, 2010 in Uncategorized

Sebagai gerakan sosial ideologis, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) acapkali menghadapi pertarungan, baik pertarungan perebutan posisi (war of position), ataupun pertarungan siasat yang melibatkan kekuatan fisik (war of maneuver), baik di tingkat internal maupun pertarungan eksternal. Hal tersebut adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Oleh sebab itu, PMII harus merumuskan strategi tepat untuk menghadapi setiap pertarungan, sehingga kader PMII akan terbiasa dengan segala macam konflik yang akan dihadapi. Tulisan pendek ini akan menawarkan paradigma bertarung pada kader PMII dalam war of position di tingkat internal.

Pada setiap “hajatan demokrasi” PMII yang agenda terbesarnya adalah pemilihan ketua PMII, baik di tingkat komisariat sampai Pengurus Besar (PB), seringkali terjadi perpecahan internal PMII. Calon yang kalah selalu memposisikan diri sebagai oposisi terhadap incumbent, dan tidak sedikit yang mencoba melakukan “kudeta” dengan mengadakan pemilihan ketua tandingan berlabel “Luar Biasa”. Pada akhirnya, terbentuk dualisme kepengurusan dalam satu tingkatan. Seperti di Makassar misalnya (baca: Dwi Winarno, Cerita dari Muktamar NU bagian I), terdapat empat Pengurus Cabang (PC) dalam satu kota. Padahal, semestinya cukup hanya dengan satu PC saja.

Dualisme kepengurusan seperti di atas sudah terjadi di beberapa daerah sejak PMII “berumur jagung”. Sampai saat ini, di usia 50 tahun, PMII masih mengalami masalah yang serupa, yaitu dualisme kepengurusan di berbagai tingkatan.

Masalah seperti ini tidak semestinya berlarut lama. Segala tindakan pencegahan harus dilakukan sedini mungkin, sehingga umur PMII tidak habis hanya untuk menyelesaikan konflik internal.

Untuk itu, seluruh Kader PMII  harus memperhatikan hal-hal berikut: Pertama, dalam konteks perebutan posisi, terdapat istilah “Pertarungan Gaya Kompetitif” dan “Pertarungan Gaya Kongkurensi“. Istilah yang pertama berarti Menang tanpo ngasorake (menang tanpa merendahkan). Menempuh kemenangan dengan cara elegan, tanpa harus mengkritik, mempermalukan dan merendahkan calon lain. Menang dengan berjiwa besar, menjadikan calon yang tidak terpilih tetap bisa menegakkan kepalanya, tanpa harus diselimuti nista dan hina.

Paradigma inilah yang harus digunakan kader PMII dalam menghadapi konflik internal. Dalam konteks war of position terpilih dan tidak terpilih adalah hal yang wajar, sehingga tidak perlu menggunakan paradigma ”apapun caranya yang penting menang”.

Sedangkan Istilah “Pertarungan Gaya Kongkurensi“, secara harfiah berarti: menaklukkan, mengalahkan dan menjatuhkan, di mana paradigma yang berlaku adalah kejatuhan orang lain. Kenyataan yang ada, kader PMII saat ini selalu menggunakan paradigma yang kedua, sehingga saling membalas kritikan, ejekan dan merendahkan saingan masing-masing. Bahkan dalam beberapa kasus, sering menjegal kader lain dengan cara yang tidak santun. Dalam persaingan perebutan jabatan di internal institusi PMII, kesantunan berpolitik mutlak diperlukan, sehingga tidak menyebabkan kader lain sakit hati yang pada akhirnya menjadi alasan untuk membentuk pengurus tandingan.

Kedua, selalu berpandangan bahwa, kemenangan tidak selalu membutuhkan objek (orang yang kalah), jika ada yang menang, bukan berarti lantas ada yang dikalahkan. Pertarungan apapun akan terasa indah, bila tidak ada pihak yang merasa kalah, semuanya merasa jaya, merasa menang dan merasa ksatria. Dalam falsafah Jawa, sangat masyur dengan istilah podo poyonyo (keduanya –yang terpilih dan tidak terpilih –meraih kejayaan/kemenangan). Pandangan ini harus dibarengi dengan sikap akomodatif dari calon yang terpilih kepada pihak yang belum terpilih. Pihak yang belum terpilih akan merasa dihormati dengan sikap akomodatif tersebut.

Ketiga, memfokuskan pada keunggulan diri dan mengesampingkan kelemahan kader lain. Hal ini akan berimplikasi pada eksplorasi kekuatan intern kader, serta tidak mudah tergoda, untuk merasa harus lebih unggul dengan cara mengkritik, merendahkan atau menjegal kader lain.

Sudah saatnya seluruh elemen PMII bersinergi menciptakan lingkungan pertarungan yang sehat di tingkat internal, sehingga tidak mengantarkan pada hasil akhir “terpilih dan tidak terpilih jadi abu”. Kemenangan seorang kesatria adalah kemenangan yang ditempuh tanpa merendahkan lawan.

Paradigma ini harus menjadi dasar setiap kader yang ingin mencalonkan diri menjadi ketua PMII di tingkat manapun. Menggunakan siasat bertarung yang “cantik” dan elegan adalah kewajiban kader PMII. Sehingga kita tidak lagi mendengar konflik internal yang berujung pada munculnya dualisme pengurus dan ketua tandingan yang dihasilkan dari Kongres atau Konfercab berlabel “Luar Biasa”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s